Beberapa tahun lalu, saya duduk di ruang tunggu sebuah kantor konsultan. Usia saya sudah kepala lima, rambut mulai memutih di pelipis. Di sebelah saya, seorang anak muda dengan jas rapi sedang scroll HP, mungkin membaca profil perusahaan. Saya cuma bawa map plastik berisi CV yang saya print sendiri di warnet dekat rumah. Rasanya aneh. Setelah puluhan tahun kerja, tiba-tiba saya harus interview lagi seperti fresh graduate.
Waktu itu saya sudah pensiun dini dari perusahaan tempat saya bekerja hampir dua puluh lima tahun. Bukan karena bosan, tapi karena saya pikir saya masih sanggup kerja. Anak-anak sudah mandiri, istri saya bilang, "Kamu mah masih kuat, coba cari kesibukan yang dibayar." Jadilah saya melamar ke beberapa tempat. Dan di sinilah pelajaran itu datang, agak telat memang, tapi tetap datang.
Pertanyaan yang Bikin Saya Membeku
Interviewer-nya masih muda, mungkin awal tiga puluhan. Sopan, tapi tatapannya tajam. Awalnya lancar. Saya cerita soal pengalaman memimpin tim, soal proyek yang pernah saya tangani, soal bagaimana saya biasa menyelesaikan konflik antar divisi. Semua saya jawab dengan lancar karena itu memang hidup saya sehari-hari selama bertahun-tahun.
Lalu dia bertanya, "Pak, menurut Bapak, apa yang membuat Bapak masih relevan di usia sekarang?"
Baca juga: Baru Mulai Kerja? 5 Menit Baca Ini Sebelum Interview Pertamamu
Saya diam. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena saya belum pernah memikirkannya dengan serius. Selama ini saya merasa pengalaman saya bicara sendiri. Kenyataannya, di ruang interview, pengalaman tidak bicara apa-apa kalau kita tidak bisa merangkainya jadi kalimat.
"Pengalaman itu baru berharga kalau kita bisa menjelaskannya ke orang lain. Kalau tidak, dia cuma cerita di kepala kita sendiri."
Saya akhirnya jawab seadanya. Sesuatu tentang etos kerja dan loyalitas. Interviewer itu mengangguk, tapi saya tahu tatapannya berubah. Bukan karena jawaban saya buruk, tapi karena dia melihat saya ragu. Dan keraguan itu menular.
Yang Saya Pelajari dari Kegagalan Kecil Itu
Saya tidak lolos di tahap itu. Kabarnya beberapa minggu kemudian lewat email singkat. Awalnya saya kesal, tapi lama-lama saya sadar ada beberapa hal yang memang saya lewatkan. Bukan soal kemampuan, tapi soal cara menyampaikan.
Pengalaman perlu "diterjemahkan"
Waktu masih aktif kerja, saya jarang diminta menjelaskan kenapa saya layak. Posisi saya sudah bicara sendiri. Di interview, itu tidak berlaku. Kita harus bisa menerjemahkan pengalaman jadi bahasa yang dimengerti orang yang belum tentu sepaham kita. Misalnya, bukan cuma bilang "saya biasa pegang tim", tapi cerita konkret: berapa orang, masalah apa yang pernah dihadapi, hasilnya bagaimana.
Pertanyaan soal usia itu bukan jebakan, tapi cermin
Dulu saya sempat berpikir pertanyaan interviewer muda itu agak kurang ajar. Sekarang saya paham. Dia bukan mau merendahkan. Dia cuma ingin tahu apakah saya sudah memikirkan hal itu dengan jujur. Pensiunan yang melamar kerja memang punya tantangan berbeda: kita harus bisa meyakinkan orang bahwa kita datang bukan karena kepepet, tapi karena memang masih ingin dan masih bisa memberi.
Kalau saya bisa mengulang, saya akan jawab begini: "Saya sudah lewat banyak fase, jadi saya tahu mana yang penting dan mana yang cuma ribut-ribut saja. Itu yang saya bawa ke sini." Jujur, lebih pendek, dan lebih meyakinkan.
Hal-Hal Kecil yang Ternyata Berpengaruh
Selain soal jawaban, ada beberapa hal remeh yang ternyata berdampak. Saya tulis di sini supaya kamu yang mungkin sedang bersiap interview di usia tidak muda lagi bisa belajar dari pengalaman saya yang agak terlambat ini.
- Latihan ngomong, bukan cuma mikir. Saya sudah tahu isi kepala saya, tapi waktu harus diucapkan, kalimatnya belepotan. Teman saya menyarankan rekam diri sendiri pakai HP waktu latihan jawab. Awalnya canggung, tapi ternyata membantu banget buat merapikan kalimat.
- Riset perusahaan itu bukan formalitas. Saya dulu malas baca-baca soal perusahaan yang saya lamar. Padahal dari situ kita bisa tahu bahasa yang mereka pakai. Perusahaan start-up beda bahasanya dengan perusahaan lama. Menyesuaikan diri itu bukan berarti tidak jadi diri sendiri, tapi tahu cara ngomong yang nyambung.
- Bawa catatan kecil. Ini kelihatan sepele, tapi saya bawa buku catatan berisi poin-poin pengalaman dan prestasi. Waktu interviewer tanya, saya bisa lihat sebentar. Bukan contekan, tapi pengingat. Tidak ada yang aneh dengan itu.
- Jangan minta maaf karena usia. Ini yang paling saya sesali. Di awal interview, saya sempat bilang, "Maaf ya kalau saya sudah agak tua." Itu kalimat yang merusak suasana. Sejak itu saya berjanji tidak akan pernah mengucapkannya lagi.
Buat Kamu yang Sedang di Fase Ini
Kalau kamu pensiunan atau mendekati masa itu, dan sedang mempertimbangkan untuk melamar kerja lagi, saya cuma mau bilang: persiapan itu tetap perlu. Mungkin kita tidak perlu belajar hal teknis dari nol, tapi kita perlu belajar cara menjual diri kita lagi. Dunia interview sudah berubah. Pertanyaannya lebih tajam, prosesnya lebih panjang, dan interviewer-nya sering jauh lebih muda dari kita.
Tapi jangan kecil hati. Justru di situlah kekuatan kita. Kita punya cerita yang tidak dimiliki anak-anak muda itu. Kita pernah salah, pernah gagal, pernah memperbaiki. Yang perlu kita lakukan cuma merapikan cerita itu supaya bisa didengar.
Interview gagal saya itu ternyata bukan akhir. Beberapa bulan kemudian saya dapat pekerjaan di tempat lain, dengan tim yang lebih kecil dan suasana yang lebih santai. Waktu interview-nya, saya cerita tentang kegagalan saya sebelumnya. Interviewer-nya ketawa. Katanya, "Justru itu yang bikin saya yakin."
Jadi ya, kalau kamu sedang grogi menghadapi interview di usia yang tidak lagi muda, tenang. Pengalamanmu itu nyata. Kamu cuma perlu sedikit latihan supaya orang lain bisa melihatnya.